Skip to main content

Lintang penyair kecil










Tuhan, di bumi yang Kau beri, aku menenggelamkan sinaran kecil
Membiarkan tenggelam dan kemudian tiba waktu mengapung di langit ini
Sinar yang mulai redup, letih bahkan hampir mati
Mengapung di antara ikatan yang mulia
Lebih mulia dari sepasang remaja mengais cinta
Sinar yang serupa dipenuhi lampu kristal dan sepasang mata berlian
Tiada lagi tiba lalu seandainya saja kemudian malam memberikan pertunangan
Redup dan bersinar
Di antara penyair-penyair yang menumpukkan karyanya
Sampai lelangnya malam mulai disisipi suara anak ayam
Terpecah di antara lekuk dan keriputnya jidat penyair jalanan
Sungguh nikmati sekali, sinaran kecil dari-Mu
Lintang dari mata yang tajam
Lebih tajam daripada masa kelam
Mengait erat kedua tangan untuk bersurat
Membiarkan kata-kata menjadi pinta
Membiarkan sinaran menjadi serupa lamaran cinta
Dari kegigihan insan yang begitu luwes dalam sinaran lintang
Menjadikannya harap dalam waktu malam
Kasih, sinaran kecil dari lintang serupa rinduku menemuimu dalam malam
Mengerucut sampai benar-bemar habis
Hingga tiada tahu lagi kapan kembali dan dinanti
Aku pun tetap menunggu
Menunggu di bawah malam
Menunggu di bawah sinar lintang
Kan kukatakan rindu
Kan kukatakan cemburu
Jika malam datang melayangkan lintang
Kasihku di malam sinaran lintang



KU KATAKAN KEPADANYA



Kukatakan pada pagi yang berdesir sepi

Kukatakan pada siang yang terpanggang
Kukatakan pada malam yang mencekam
Mengapa hariku tiada kekasih hati yang suci?


Kukatakan pada anggrek yang cemburu tentang gadis begitu molek

Kutakan pada mawar yang menyinggung senyum teramat tawar
Kukatakan pada melati yang mencibir hatiku yang serasa mati
Mengapa bungaku tidak menyimpan puisi?
Adakah yang salah pada hariku tentang bunga-bunga di taman syurga?



BALADA EMBUN KEPADA DAUN LOMPONG



Dengan daun lompong di pinggiran kali Pagi ini embun masih begitu kental

Berjejeran akar, telinga begitu bebal
Mendengar aliran kali bercerita, aku tak bernyali
Sungguh sepi, daun lompong telah kau dapati
Tumbuh lalu jatuh kepada ikatan akar
Terasa ruh pada raga telah mati dan pergi
Embun pun membenci pagi dan sesekali menari
pada angin, riak kali yang menyimpan lagu-lagu camar


Semua terikat, mata mengambang pada atap daun lompong yang kumal

Embun jatuh pada semut-semut yang usil yang menggelitik geli
Mereka tertawa, ikan-ikan membual
Sepi pun menyinggung di aliran kali
Embun menyusut pelan hingga tunas menyindir pasti
Tiada lagi ruh pada raga yang samar
Mengembalikan rindu pada kali dan lagu-lagu camar
Semua telah berkisah pada embun dan daun lompong yang seminggu lagi akan mati

Comments

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

kumpulan puisi sahabat

karya :samsul hudah Hewan melata terperangkap gelisah dan ketakutan
Hutan yang ditempati bertarung melawan api
Angin dan panas bersatu jadi sekutu kita wajib bertanya
Siapakah pematik api?
Televisi hanya meramalkan asap
wajah-wajah sayu tak kedip memandang beku dalam lipatan layar
Dan bugkam menyerupai tombol-tombol remote
Serangga dan manusia Sama-sama mencari juru selamat
Mungkin dalam pesawat yang terlambat atau
Abu yang telah di tinggalkan harapan
Sejarah abu berubah air mata
kota mengasap desa-desa terhisap


AKU LAH LAKI LAKI

karya: dewi indriani
Akulah laki laki penebar sejuta pesona
Kuberikan senyum kaupun tergoda
Akulah sang penggoda
Kusapa dengan cinta kau pun terlena

Akulah laki laki kurengkuh sepi semua wanita
Kubelai wanita dengan tatapan mata menusuk tajam
Mari kemarilah wahai wanita
Lupakan sepimu menarilah denganku
Dengan desah cinta dan nafasku
Lupakan lupakan semua tentangmu

Akulah laki laki penebar sejuta pesona
Tak sanggup kuhitung jemari dustaku
Akulah laki laki penebar sejuta pesona
Tawa dan …

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak