Skip to main content

Senja Di Trotoar Jakarta puisi sahabat

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Berbaris pedagang, lalu lalang
nona-nona cantik berwajah tebal 
Rangkaian sinar belum hilang
masih seperti telunjuk, mengarah jiwa-jiwa yang kumal

Dan bukit-bukit menjadi gedung-gedung
menjulang di tengah pekiknya hasut duniawi
Menyusut halus keringat yang belum habis
tertinggal hanya anakan sungai yang menyudut

Belum sempat bertelaga
hanya membekas lalu menganak panjang
Mungkin untuk hari esok, kembali
pada sinar yang belum terpecah lagi


PUISI MALAM

Malam terikat,digagahi dalam sendiri
kunang-kunang dipandang jauh dan mengabur
Sela-sela dinding melempar cahaya sunyi
terhempas hingga ke ujung, mereka saling terpisah

Terpisah tiada takut, meski maut membuat kalut
tak ada harap yang terikat, semua menyendiri
menyendiri masing-masing lalu semua terhenti
melihat malam di ujung awan yang berkabut

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait