Skip to main content

belum habis luka

Karya : Penyair Kecil


Mengapa sedih selalu memekik lirih?
Belum habis tangis ini
Luka-luka percaya padaku
Berulang lagi tangis yang belum genap seratus hari

Masih mengharum bunga-bunga dalam karangan
Kusendiri dalam tangis kehilangan
Kasihku sudah menghadap
Tentunya kuberharap

Ratapan sedih tak jua tiada
Habis sudah kebahagiaan yang kupunya
Kasih dari keluarga sudah terhenti
Melepasku dalam harum bunga karangan yang belum kering sendiri

Tuhan, kemana kuharus menerangkan mata ini?
Sedangkan tangis yang belum genap seratus hari masih disini
Apa kuharus berlari menanggalkan luka-luka?
Kemudian kuberhenti di ujung malam bulan purnama?

Kasih, secepat itu kau pergi
Menyatakan raga telah ditinggal sendiri
Di ujung musim yang belum habis
Langkah kecil membuat derai tangis

Kuberharap hujan tak berpihak pada pohon-pohon
Kuberharap angin tak berpihak pada ombak yang menelantarkan riaknya sampai mengusir pasir
Tapi kuberharap kebahagiaan selalu mengikuti
Berderai panjang sampai kunikmati lagi cerita kasih

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait