Skip to main content

Di sebrang pulau

Karya: Penyair Kecil


Di sebrang kau menyandar, mengalung si buah bibir dari anak manusia
tiba dengan bergaun hitam sepu, kau menyaringkan kuping di sampingnya
di luar yang mengatakan hujan
telah menenggelamkan potongan-potongan yang terempas jauh tak bertuan

Bergaris merah, kujajahkan puing-puing yang menelantarkan angan
yang berharap menunggu pelangi setelah hujan
aku kira
kau telah bercinta dengan sepotong keju yang membawamu melempar

Jauh sebelum layung kuabdikan
yang menyisir garisnya untuk menitih
kemudian kepasrahkan saja pada rembulan yang merakit
hingga ujung pohon menari

Mungkin kupasrahkan saja pada kalender yang terlingkar
sudah sekian kudekap sepi
bukan di pasar
hanya kamar kecilku yang terlantar

Mengumpat potongan-potongan yang belum terjual oleh air
bersama gerimis yang sepadan sudut mata
kupasrahkan saja semburat duka
pada layung yang belum terlempar

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait