Skip to main content

Malam Berbincang

 Karya: Nasrul Asrudin


Malam ini aku berbincang
tetapi kulihat kulit-kulit mengkerut
yang di bawahnya adalah tangisan balita
kemudian seribu puisi tak lagi memecah noda-noda
kepada kain-kain yang mengikat di hadapan meja


Aku Adalah Gelas-gelas Anggur
Karya: Nasrul Asrudin

Aku adalah gelas-gelas anggur
tempat terakhir melepas tidur
yang seteguknya adalah penanda malam
kemudian puncak hujan meluka kelam
Sayap-sayap kecil menunggu
di lubang kerdil yang menurunkan kaki-kaki
tempat paling akhir selain pasir
yang mengumpat mata dari cinta
Aku adalah gelas-gelas anggur
terpecah di antara malam membujur
direngkuh angin yang menanti
aku adalah gelas-gelas anggur yang mati


Nyanyian Pasir Rindu
Karya: Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin )

Jika hari telah pagi
aku adalah nyanyian pasir
tempat kasih memuncakkan rindu
yang dipucuknya adalah lembah-lembah rindu lugu
Kemudian kumakan mentah 
seribu nyanyian pengembala lembu
di sampingnya tempat rindu memuncakkan waktu
dimana dulu aku adalah sepotong labu
tiada rindu yang berlalu.

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait