Skip to main content

Mawar di awal oktober

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Setangkai mawar, berdiri sendiri di pojokkan rumah
Dihinggapi lukisan-lukisan air yang menempel di langit-langit daun
Aku memetik satu kelopak yang hampir layu
Aku buang di belantara pekarangan rumah yang kosong

Membiarkan sendirian, sementara suara kodok mulai menemani di ujung kaki-kaki rumah
Semua membagi ketakutan
Hanya setangkai mawar yang sedikit merunduk dan duri yang tumpul tak sempat melawan
Dibiarkan semua memisah serta retak di bawah kolong jendela

Entah harus berjuang, berenang melawan belantara pekarangan yang digenangi air dan gundukkan sampah?
Tapi kini semua berkata
Berkata di antara keduanya, tentang pojok rumah, belantara pekarangan serta jendela

Apa harus bersatu?
Berpisah atau hanya membiarkan busuk?
Kalau kiranya demikian, aku tak pergi
Meski melati menyambut dengan lembut

Tapi tidak denganku, aku yang selalu
Menantimu sampai semua menyatu
Untukmu mawarku di awal oktober.

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait