Skip to main content

Nyanyian Pasir dan Nyiur

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Kuberdiri di tiang rembulan
Mendatang tenang nyanyian pasir
Dipucuk nyiur kutiba
Dipeluk melayang awan menyambat raga

Rembulan bertunangan pada awan
Tertumpah jatuh diikat angin dan debur ombak
Cahaya ditawarkan sunyi pada nyanyian daun nyiur
Kurengkuh dalam layang yang berenang

Sesekali ini kuteguk mentah nyanyian pasir yang mengundang selir bermandikan angin
Mendatang tiba kupasrahkan saja
Pada gita rembulan yang bertunangkan awan
Terkecuali kuberlari menanggalkan nyanyian pasir untuk habis kemudian .
Akar-akar nyiur sudah merambah pada garis pantai
Kuucap hening yang sangsai, kupasrah yang tak habis usai
Kemudian kutitipkan sekali ini
Rembulan bertunangan pada awan yang membuatku ingin berlari

Tuhan, rembulan-Mu mengakar pada kedua mata yang mengucap kata
Tangis serta rindu padanya
Jika esok kudengar nyanyian lagi, kutak ingin duduk
Kuingin bermain pasir lalu kutitup bersama debur ombak
Agar tiada layang yang membuatku jatuh tergeletak
Di antara nyanyian pasir dan nyiur di bawah pertunangan rembulan dan awan. 

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait