Skip to main content

Lapar Di Musim Kemarau


Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Teriaknya dia dalam ritme kecil
Menunggu dijejali semangkok nasi
Larut dikencani prasangka
Tunggu saja sebentar, tahan sebelum tiba
Jangan berisik, ini bukan sekali
Hampir kau begini
Salah istri?
Sudah diam, besok kita akan menikmati
Telanjangnya asap di atas meja
Tapi lain kali jangan kau begini
Malu sama tuan-tuan yang berdasi
Nanti dikira kita kelaparan


SENJA DI NEGERI NELAYAN

Camar-camar menari di atas layar kapal, senandung lagu nelayan melepas senja
Pasir yang sejuk mulai merasakan kaki-kaki tua
Ombak pun terpecah
Riuh diantara segerombolan camar yang menari
Menari bersama kelepak yang mungil
Sempat mereka turun
Meletakkan jejak-jejak kecil
Untuk menyisir jalan
Sampai kapankah harus menjadi lukisan
Tentang senja di negeri nelayan


KUKU KUKUMU DALAM CINTAKU

Baru kemarin, kuku-kukumu masih dapat aku lihat
Aku pegang di awal bulan ini, seperti aku melihat bunga-bunga jatuh di teras rumahku
Pipihmu memerah, bibirmu kau gigit dengan pelan oleh gigimu yang serupa biji-biji mentimun
Semua berduka, kita yang bahagia
Entah rawa, telaga serta bunga yang tersiksa
Melihat kita berdua menyatakkan cinta di awal bulan musim ketiga
Lalu aku lepaskan dengan pelan kuku-kukumu
Aku melihat wajah
Dipapah aku dengan pelan
Digamit selendang bidadari bergaun merah
Dan aku sudah bermimpi dalam ketakutan
Kini aku tak bisa melihatmu lagi
Kau diam bukan bisu, bukan tak mendengar
Baru kemarin kita menikmati janji-janji
Tapi kini kau sudah pergi
Hanya puisi aku sematkan dalam kepergian ini
Puisi untukmu
"Kuku-kukumu dalam cintaku"

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait