Skip to main content

Aku ingin selalu bersamanya

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Kemarin kita dapati melati tumbuh di atas tanah tandus
Seiring tumbuh dan menggamit di dinding-dinding yang sempat kita pahat satu pesan 
Dimana rumput-rumput kecil tumbuh mengitari dengan tulus
Sebagaimana aku berpesan kepada segenap hujan yang memberikan lukisan
Dan aku mengetuk satu pintu di samping dinding yang kita temui
Tidak seorang pun membuka, melihat dan mendengar
Hanya laba-laba kecil yang mengunci di atas tiang-tiang
Membujuk aku untuk kembali mengajakmu bersenda di belakang taman yang sepi
Kita jua sempat memandang di sela-sela jendela, hanya angin yang memberikan kabar
Kepada abu yang bersimpah di ruang-ruang tua
Mengajak kita menyudahi untuk selalu bersama
Meski lubang-lubang kecil sudah terbentuk dari tangan-tangan sebelumnya
Kita jua sesekali menyiumi tandusnya tanah yang tak berpagar
Mengumpat melati di sisi timur yang kita pernah berjumpa
Dimana aku letakkan melati di sela-sela telingamu
Sampai laba-laba kecil turun lalu malu
Ah, kita biarkan saja mereka menjadi lukisan di rumah tua
Lidah dan bibir kita yang pernah mengucap
Kepada tanah yang tak berpagar biar mengendap
Sampai hari-hari mulai menghilangkan kita satu per satu menjadi tiada
Tapi aku ingin bersamamu selamanya.




Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait