Skip to main content

Hening Yang Sangsai

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)



Hening ini sangsai
di antara gubuk yang beratap jerami
kupersilahkan rembulan sinau silau
yang berselancar, melayang pada penyair desa

Kemudian cahaya membasuh
membasahi sekulit tubuh
yang meninggalkan kekeringan
dimana seribu puisi tentang gerimis pada rembulan, hujan pada pepohonan

Kupersilahkan kau menyantap keju
di hari yang belum selesai, kumalu
terpisah, terpecah di antara rumahmu dan gubukku
yang memecah hening di muka seribu debu

Rembulan pun mulai berjalan
bertaut riang kunang-kunang
kudiamkan jerami yang mengusik di telinga
tentang bisik hening yang tiada rupa

Aku kira
hening sudah bertaut
yang mengantarkanku berjalan
membiarkan gubukku terpisah, terpecah sampai hujan melancarkan angin pada pepohonan

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait