Skip to main content

Aku Rindu Kamu

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Kali ini aku menikmati selaksa wajah
dari hening yang membasuh lembut
Serta telapak tangan yg begitu nampak
dari karya syorga yg damai

Aku ingin mencuri sebatang bambu, lalu
aku ikat di dinding yg menyaksikan
Biar aku tak sendiri, menikmati lukisan wajah
Dari kearifan yg sudah tidak terpecah
Hanya cahaya yg terikat, lalu tidak lagi memudar
Dan malam ini serupa dinar


KEMBANG

Layu dibasuh
Merakit keharusan yang penuh
Terjepit di antara kehausan dan kelaparan
Menunggu kearifan

Tertinggal di ubun-ubun senja
Kau maknai itu
Diikatkan mengarah pada telanjang mata
Sekerdil kemunafikkan yang bersinggah lama

Tumpah membasuh
dan tergelincir, keluh
syurga yang pernah digenggam perlahan hilang

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait