Skip to main content

Kedamaian Yang Belum Pasti

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Kubisukan angin yang menertawakan daun anggrek
Sekian malam dikau mengkritisi sajak-sajak tentang anggrek
Dan kubiarkan kodok menjadi separuh hidupnya
Melenyapkan sepi, melepas sunyi lalu menabur bahagia

Di taman yang belum direstui, dikau
Serupa desir pasir hilang di bibir pulau
Hanya saat ini kedamaian berada ditangan dewi samudra
Yang mengembalikan ombak menjadi ada dan tiada


MALAM DI KOTA KARYA

Semula aku ingin menutup rangkuman dari kilas kota kecil, bermalam sendiri, hingga musik mulai terhenti
Kemudian aku berjalan, sejajar dengan roda-roda becak yang berputar pelan
Langkah awan menyiumi jidat-jidat penyair jalanan
Sesekali tumbuh jiwa-jiwa yang kerdil, lalu melepas dan menyimak arah awan pergi

Ketika semua terasa mengambang, jatuh pelan di pot-pot kayu, aku sendiri
Bercerita pada rak buku yang memandang pedih, lalu aku sesekali
mendengar jam mengatakan malam merangkak pagi
Dan kusimak awan, pot-pot kayu pada malam
Mungkinkah aku harus menyinggung dan menyudahi

Atau memang aku sudah digenggam dan terhenti ketika pagi?
Lalu kenapa mereka tak mendiamkan jarum emas di balik jam kristal kuno itu?
Apa aku harus berjalan lalu menyimak awan
Yang mengatakan, kau telah digenangi jiwa-jiwa kerdil?


OKTOBER MEMERAH SEPI

Oktober, kalender memerah sepi
Sebelum bulan-bulan kemarin, yang serupa menunggu kolam penuh terisi
Dan keharusan angka-angka yang meletakkan sebuah sudut
Angka-angka dimana kesepian mulai berpaut

Semula kecerian hadir dalam sembilan bulan sebelumnya, lalu
Jejak-jejak tertinggal di antara angka-angka yang menghitam
Pergi dan kadang hadir untuk berdandan pada langit kolam
Lalu menghitung satu demi satu angka yang begitu diamkan segala masa

Sementara keributan bersandar di dinding kolam, lumut-lumut mulai mengajak
Bersenda pada wajah yang sedang berdandan
Dan oktober memerah sepi, tergeletak
Di antara kolam yang riak penuh kepalsuan

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

kumpulan puisi sahabat

karya :samsul hudah Hewan melata terperangkap gelisah dan ketakutan
Hutan yang ditempati bertarung melawan api
Angin dan panas bersatu jadi sekutu kita wajib bertanya
Siapakah pematik api?
Televisi hanya meramalkan asap
wajah-wajah sayu tak kedip memandang beku dalam lipatan layar
Dan bugkam menyerupai tombol-tombol remote
Serangga dan manusia Sama-sama mencari juru selamat
Mungkin dalam pesawat yang terlambat atau
Abu yang telah di tinggalkan harapan
Sejarah abu berubah air mata
kota mengasap desa-desa terhisap


AKU LAH LAKI LAKI

karya: dewi indriani
Akulah laki laki penebar sejuta pesona
Kuberikan senyum kaupun tergoda
Akulah sang penggoda
Kusapa dengan cinta kau pun terlena

Akulah laki laki kurengkuh sepi semua wanita
Kubelai wanita dengan tatapan mata menusuk tajam
Mari kemarilah wahai wanita
Lupakan sepimu menarilah denganku
Dengan desah cinta dan nafasku
Lupakan lupakan semua tentangmu

Akulah laki laki penebar sejuta pesona
Tak sanggup kuhitung jemari dustaku
Akulah laki laki penebar sejuta pesona
Tawa dan …

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak