Skip to main content

Cahaya Cinta Dari Kekasih

Karya : Penyair Kecil


Yang dirindu pun sudah
jauh sebelum kumenatap
kekosongan yang penuh
Dengan do'aku yang teguh, aku
mengatasnamakan cinta penuh teguh
Kuharap hening selalu berkata, adakah pertunangan ini Tuhan?
Sebelum aku benar-benar habis kemudian

Mempunyainya sunguh kuselalu berharap
ada hening yang membawa kembali
Tentang cinta yang tak menyudahi sampai diri benar-benar terhenti
Diam kemudian menggantung di musim yang kemarin kita menanggalkan bahagia Kiranya aku sudah digenangi jiwa yang begitu menghamba padanya

Cahaya di atas cahaya
Kumohon bawalah cawan cintanya
Untuk kusimpan dalam do'a yang digenangi muara-muara dari syorga Sampai kukembali dalam cinta yang benar-benar cinta

Sementara dia masih bermain pada rintik gerimis, tujuh warna pelangi yang membuka kedua mata, satu hati
Adakah jawaban dari syorga cinta pujangga dalam puisinya
Tuhan, jika dia kembali maka kutak akan meminta rintik gerimis dan tujuh warna pelangi
Karena Kau tahu, cinta yang mengembalikan lukisan itu ada padanya Tentang kasihku pada musim-musim yang membawa cahaya di atas cahaya

Popular posts from this blog

Puisi sahabat Selamat Pagi Indonesia

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Selamat pagi indonesia Ibu pertiwi masih raut dalam duka Entah duka saat ini, kemarin atau lusa Tangis jua indonesia dalam berita Asap-asap yang menyiksa Sampaikan duka kepada negeri tetangga Harus bagaimana kita Malu, takut lalu lupa Selamat pagi indonesia Masihkah kita lupa Sangkur baja serta selempang senjata Yang melenyapkan pendahulu kita Indonesia tempat pengembala kecil, nelayan, serta pramugari mencari cinta Selamat pagi indonesia Masihkah nanti cucu-cucu kita bahagia Dalam negeri indonesia yang kaya raya

Sajak Pemuda Desa

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Mengapa kau kotak-kotakan kita?
Kita adalah tunas yang tumbuh tak dipinta
Bukan karena kita beda lalu semua lerai
Tidak, kita tak akan hening yang sangsai

Kita tumbuh
Dengan teguh, kita tak akan luluh

Kau tahu jaman sudah kembali edan
Tapi kita tetap bertahan
Sampai merah darah mengalir
Sampi putih tulang tergelincir
Kita tak akan mangkir

Kau tahu kenapa kita bersatu?
Karena kita tahu darah dan putih tulang kita sama
Tiada beda yang merusak
Sampai getir pun tak akan terkoyak

Puisi sahabat Serupa Anak Ayam

Karya : Penyair Kecil ( Nasrul Asrudin)


Anak-anak ayam keluar kandang
Sudah kenyang mereka menghadap siang
Tinggal tumpukkan kotoran yang menjijikan
Dasar mereka kurang kerjaan
Siang pun beranjak, anak-anak ayam berisik lagi
Mengotori keramik rumah tua
Matahari sudah terbata-bata
Kau sudah gila apa?
Baru sebentar kau makan
Kembali lagi minta jajan
Kau pikir ini mall, kumpulan orang-orang berduit?
Sana pergi, tak usah kembali sampai benam matahari terkait